AmbaLat dan maLing.....???

Merinding sekujur tubuhku membaca sebuah pengakuan seorang nelayan di salah satu website Koran. ‘ih, nyebelin banget sih nih Malaysia. Seenaknya ngusir nelayan Indonesia di perairan milik INDONESIA. Apa sih maunya ? ngajak berantem kayaknya ?’.
Di situ ditulis, selain mengusir para nelayan yang sedang mencari ikan, pihak Malaysia juga sempat menonjok salah satu nelayan dan menyita hasil tangkapan ikan beserta 1 slop rokok. ‘Dasar gak tau diri ! udah ngusir seenaknya, pake acara sita-sita-an lagi. Ini namanya udah menginjak-nginjak harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan. Gak sopan !’. (huft… sabar… sabar….)!
Kasus ini memang udah sangat berlumut (saking lamanya). Dengan adanya berita ini, menurtku Malaysia seperti meremehkan derajat Indonesia. Malaysia seolah lupa akan dirinya berasal. Jika kita cek dan ricek kembali, dulunya guru-guru Indonesia di ekspor ke negri jiran itu untuk mendidik rakyat Malaysia. Bukan hanya mencerdaskan, tapi juga mencerdaskan yang memiliki akhlak yang mulia. Harapan untuk dapat hidup bertetangga dengan damai pun sirna. Bukan hanya karena kasus ambalat ini saja yang menimbulkan perdebatan. Tapi juga warisan-warisan leluhur juga ikut di ambil dan diakui sebagai milik bangsa yang memiliki menara petronas ini. Seperti ; Lagu daerah, corak batik, masakan, dan masih banyak lagi.
Sekali lagi, untuk masalah ini, kita harus bertanya kepada pemerintah. Kenapa bangsa Indonesia seperti mudah untuk di olok-olok. Di ombang- ambing kan eksistensinya di mata dunia. Berkali-kali dan bukan hanya sekali, tetangga kita yang satu itu merebut sesuatu yang menjadi milik Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk masalah blok Ambalat yang alot dan berlarut-larut ini, pemerintah harus bersikap tegas. Banyak dari rakyat Indonesia yang sudah siap untuk berkorban jiwa dan raga membela Negara jika jalur diplomasi tidak ditemukan kesepakatan. Pemerintah harus melihat situasi ini. Jangan mau bangsa yang kaya ini lama-kelamaan akan miskin karena sedikit demi sedikit digerus harkat dan martabatnya oleh bangsa lain. Hidup NKRI !!!
sadarlah kau wahai Malingsi_A_pa...???!!!)
(ungkapan kekesalan, keprihatinan dan semangat hati)
Peace… salam damai !!!!
cHayyo….!!!! n_n

Persahabatan....

Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu2…..
Hhhhh… lagu yg penuh makna. Yah,,,, kita bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit dengan bantuan sahabat. Sahabatlah yang mendorong kita untuk terus maju dan berusah. Tentunya itu adalah teman yang baik. Teman yang mengkritik kita disaat kita melakukan kesalahan dan memebrikan jalan keluar yang terbaik untuk itu. Bukan sahabat yang meng-iya-kan segala perkataan kita, walaupun itu tidak baik. Sahabat yang baik tentunya juga mampu dan bersedia hadir disamping kita saat disemua keadaan. Bahagia bersama, menangis juga bersama. Bukan hanya ingin seneng2 bareng ja. Sahabat apakah itu ? (hehehe) saat sedih kita siap menjadi sapu tangan. Disaat sahabat kelelahan kita siap menjadi bantal yang menggoda. Istilahnya… n_n
Disetiap persahabat pasti sedikit banyak ada pertengkaran. Apalagi diawal-awal memulai tali persahabatan. Dimana masing2 personil belum terlalu mengenal sifat dan watak sahabatnya. Tapi, itulah ‘bumbu’-nya. Disitulah kita tahu sifat, watak dan cirri satu sama lain. Apa yang tidak disuka, apa yang disuka, seleranya gimana, dan hal2 lain.
Menurutku sahabat itu adalah salah satu hal terpenting yang aku miliki. Karena selain orang tua, kita bisa mencurahkan isi hati kepada sahabat kita. Apalagi masalah hati. Terkadang jikalau kita malu untuk menceritakan mengenai ‘hati’ ke orang tua, orang pertama yang kita kasih tahu adalah sahabat. Oleh karena itu, sayangilah sahabat kalian. Jangan buat hatinya kecewa. Okeh2…. Peace… Salam damai…. n_n
kayaknya tulisan ku kali ini sampai disini dulu yah…….
ChayyOoOoOo……

Anak iTu…..

Sekali lagi hatiku terenyuh melihat pemandangan itu. Anak berumur sekitar 8 tahun yang berpakaian lusuh itu perlahan mendekati sebuah mobil sedan. Mobil itu berwarna merah yang dikemudikan oleh seorang pria setengah baya yang terus menerus melihat kearah lampu merah dan sesekali melihat kearah jam tangannya. “Korannya om, seribu saja.” kata anak tadi. Pria berkulit putih itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu sesaat kemudian lampu warna merah digantikan dengan warna hijau. Mobil itupun melesat meninggalkan anak penjaja Koran tersebut.
Kejadian tersebut aku alami sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu. Saat melihat kejadian itu aku sedang di dalam angkot. Huhhf… Q hanya bisa menghela nafas, mau Bantu tuh anak juga mikir2. uang yang tersisa hanya cukup buat bayar angkot. Sebenarnya sih Q gak tega. Apalagi Koran yang dipegang anak itu masih banyak. Aku kembali teringat pada pria yang didalam mobil. koQ ngeliat “yang begituan” (anak kecil yang jualin Koran-red) gak kesian. Padahal apalah artinya duit seribu perak bagi pria yang kelihatan punya duit jutaan ribu. Mungkin udah beli Koran tadi. (khusnuzan thingking ja deh. Daripada dosa. Hehehe…).
Kejadian tadi udah sering banget terjadi dan mungkin gak hanya di kota Q saja. Di Indonesia emang banyak orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Bisa makan hari ini saja sudah untung. Gak sempat mikirin punya baju bagus, rumah layak huni, pergi ke pesta, pokoknya hal-hal yg berbau glamour. Jadi teringat lagunya Iwan Fals. Disaat kita bisa pake baju bagus, rumah yang layak huni, dan pergi ke pesta yang meriah, diluar sana banyak orang yang mati kelaparan, baju yang udah gak tahu bentuknya gimana lagi, rumah mungil yang hanya terbuat dari kardus-kardus bekas. Miris memang, namun inilah kenyataan. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Kita harus introspeksi diri sendiri.
Sebagai bangsa yang kaya, yakni kaya akan limpahan alam dan warisan leluhur berupa budaya. Kita harus bisa mengubah bagsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Baik akan kesejahteraan rakyat maupun baik dalam segi sikap dan perilaku.
Anak penjaja Koran tadi tidaklah sendirian. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak memiliki nasib yang serupa. Banyak kita temui dikota-kota besar metropolitan, yang penuh dengan kemewahan berserakan anak2 semuran sekolah di tepi2 jalan, menunggu lampu merah menyala dan mulai menjajakan apa saja yang bisa ditawarkan bagi pengguna jalan. Apakah itu jualan asongan, Koran, makanan kecil, pernak-pernik kendaraan, jasa hiburan (ngamen-red), hingga meminta dengan cuma2 alias ‘ngemis’.
Kita tidak bisa menyalahkan sipa2 atas kondisi negri ini. Semua pihak memiliki peran penting dalam pembangunan masa depan jangka panjang. Kerja sama dan saling percaya akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Semua tenang, semua senang.

*ini hanyalah ungkapan hati, tanpa ada unsur paksaan apapun (apaan coba ?). salam damai !*

Kunjungan ke Camp Vietnam

Camp yang terletak di Desa Sijantung, Kepulauan Riau ini memang menarik perhatian. Tempat inilah yang menjadi saksi sejarah dimana para pengungsi yang berasal dari Vietnam datang berbondong-bondong untuk mencari perlindungan.

Pada tahun 80-an, terjadi peperangan antara Vietnam Utara dengan Vietnam Selatan. Pada saat itu Vietnam Utara mulai menguasai seluruh wilayah Vietnam. Dengan alasan keamanan rakyat Vietnam Selatan yang sedang terjepit posisinya mengambil langkah mengungsi. Dengan menaiki beberapa perahu, mereka mengarungi lautan untuk mencari tempat-tempat aman. Berhari-hari terombang-ambing di Lautan Cina Selatan, akhirnya mereka sampai di Pulau Galang. Dengan persetujuan Pemerintah Indonesia dan bantuan PBB, dijadikanlah pulau seluas 80 hektare ini menjadi tempat pengungsian. Menjadi tempat berlindung dan melakukan aktifitas para pengungsi sehari-hari.
Awal masuk ke kampung Vietnam kita bisa melihat kuburan-kuburan yang berjejer disepanjang jalan. Kuburan-kuburan ini adalah kuburan para pengungsi yang kebanyakan meninggal karena menderita penyakit dari awal perjalanan selama berhari-hari di lautan.
Di kampung ini kita dapat melihat 3 perahu yang di pamerkan. Perahu-perahu inilah yang mengantar mereka hingga sampai ke pulau Galang. Berdesak-desakan dalam perahu membuat tidak sedikit dari mereka yang meninggal dalam perjalanan. Awalnya perahu-perahu ini lebih dari 3 buah. Namun sebagai aksi protes karena akan dipulangkan, para pengungsi membakar beberapa kapal dan ada juga yang ditenggelamkan. Perahu-perahu yang saat ini kita lihat adalah perahu yang telah diangkat dari permukaan laut dengan trailer dan diperbaiki seadanya.
Tempat yang terletak 50 km dari pusat Kota batam ini juga memiliki museum. Di museum ini kita biss melihat beberapa peninggalan-peninggalan para pengungsi seperti telephone, patung-patung, foto-foto pengunsi, plakat peresmian rumah sakit, buku-buku, sepeda motor, dll.
Di perkampungan itu juga ada beberapa perkebunan seperti papaya dan semangka. Bagi siapa saja yang berminat, bisa membelinya dan memetik langsung. Tentunya dengan harga terjangkau.
Selain itu, juga terdapat tempat-tempat ibadah seperti gereja dan vihara. Vihara ini dapat kita kenali dari jauh karena temboknya berwarna-warni. Di Vihara ini terdapat 3 patung yang berdiri kokoh yang didepannya terdapat patung naga. Para penganut agama budha percaya bahwa patung ini bisa mengabulkan berbagai permintaan. Caranya kita tinggal meminta permohonan lalu memasukkan koin kedalam mulut patung naga.
Disepanjang perjalanan kita bisa melihat bekas barak-barak pengungsi. Barak-barak pengungsi ini sudah banyak yang rusak. Sayang sekali, padahal barak-barak ini (menurut saya) adalah salah satu alasan yang menarik untuk datang ke kampung Vietnam ini. Rumah-rumah panggung berjejeran saling berdekatan. Membuat bayangan akan masa lalu bahwa dulu disinilah tempat para pengungsi saling berinteraksi. Namun, hamper dari semua rumah-rumah panggung ini tinggal tingnya saja yang berdiri.
Saat ini, tempat bersejarah itu menjadi salah satu proyek Pemerintah Kota Batam untuk program Visit Batam 2010. Hal ini merupakan kabar baik. Karena kampung Vietnam merupakan salah satu tempat yang tinggi akan nilai-nilai sejarah yang harus dilestarikan. Selain itu, kampung Vietnam juga bisa menjadi salah satu daya tarik yang dapat dipamerkan dan menjadi income bagi Pemerintah Kota.
Kata pepatah ‘Bangsa yang baik adalah bangsa yang ingat akan sejarahnya’. Oleh karena itu, sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah, alangkah baiknya jika camp Vietnam di jaga dan dilestarikan. Jangan samapi jejak-jejak sejarah yang pernah singgah di pulau Galang ini hilang. Jika sampai hal itu terjadi alangkah ruginya kita sebagai sebuah Negara yang penuh dengan sejarah perjuangan.

Kebijakan yang kurang......

Melihat kondisi negara kita saat ini, terdapat 2 sisi yang berbeda. Pertama, penghargaan-penghargaan yang telah berhasil diraih Indonesia di dunia global. Seperti dijadikannya wayang sebagai masterpiece dunia dan gamelan yang dicintai oleh masyarakat asing dunia. Kedua, keterpurukan yang juga dilakoni Indonesia. Rakyat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan dalam jumlah yang banyak , salah satu Negara korupsi terbesar didunia, busung lapar, kerusuhan, dan bencana yang datang bertubi-tubi. Jika dilihat tentu saja 2 sisi ini sangat tidak seimbang karena cenderung lebih berat pada sisi yang kedua. Dan saat ini ketidakseimbangan itu ditambah dengan kebijakan pemerintah yang akan merenovasi gedung DPR. Sampai separah apa sih gedung DPR hingga harus direnovasi…? Apakah separah sekolah-sekolah tua didaerah perkampungan ? atau separah fasilitas-fasilitas umum yang telah lama terabaikan dan tidak layak lagi untuk digunakan ? atau malah separah rumah-rumah yang ada di tepi sungai dan kolong-kolong jembatan ?

Disaat banyak rakyat kelaparan, BBM yang masih tinggi, banyaknya jumlah pengangguran, kriminalitas semakin meningkat, bencana yang dating silih berganti, pemerintah masih juga membuat keputusan yang dirasakan tidak tepat penempatannya. Apakah para pejabat-pejabat yang terhormat itu takut tertimpa atap reruntuhan bangunan yang tampaknya masih kokoh itu? lalu bagaimana dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah yang sudah bobrok ? mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa pasrah pada keadaan, berharap agar atap sekolah mereka yang telah lapuk dimakan rayap tidak jatuh menimpa mereka, dinding yang telah bolong, lantai yang tidak rata, dan jika hujan dengan sangat terpaksa proses belajar mengajar dihentikan. Apakah tempat seperti itu layak untuk dijadikan tempat menuntut ilmu bagi generasi penerus bangsa ? generasi yang diharapkan nantinya dapat meneruskan tampuk kekuasaan negeri ini dengan seadil-adilnya.

Masyarakat banyak yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah ini. Banyak yang mengusulkan agar perenovasian gedung DPR itu digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting dan akut. Namun pemerintah seolah-olah menutup telinga rapat-rapat. Pemerintah tetap melaksanakan perenovasian gedung yang membutuhkan biaya sebesar 33 miliar itu. Merupakan sebuah angka yang sangat besar bagi rakyat Indonesia.

Alangkah bijaksana jika pemerintah mengalokasikan dana renovasi itu untuk keperluan rakyat yang lebih penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur lain yang menunjang kesejahteraan rakyat. Semoga pemerintah kita ini bisa lebih bijaksana. (NH)

Pengaruh Budaya sebagai Citra Bangsa di Mata Dunia

Nilai-nilai budaya Indonesia saat ini mulai terkikis oleh masuknya budaya barat. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya perlahan meninggalkan budaya tradisional dengan alasan mengikuti arus globalisasi. Akibatnya, bangsa Indonesia kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia.
Budaya memiliki banyak arti yang berkaitan dengan suatu bangsa. Budaya bisa berarti akal budi atau pikiran. Akal budi bangsa Indonesia mulai luntur seiring dengan terkikisnya nilai budaya. Sebagai contoh, Jakarta berubah menjadi kota yang tidak memiliki budaya tradisional. Warga yang tinggal di kota besar tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Budaya barat tidak cocok dengan karakter bangsa Indonesia. Budaya barat jelas berbeda dengan adat ketimuran Indonesia. Nilai budaya yang makin terkikis berdampak pada generasi muda. Sejarah berdirinya Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi cerita usang yang tidak menarik untuk dibicarakan. Untuk itu, pemerintah wajib memberikan informasi tentang budaya kepada generasi muda. Bangsa Indonesia harus memiliki jati diri dengan cara mempertahankan nilai-nilai budaya.
Dari waktu ke waktu budaya barat semakin marak dan diserap dengan mudah oleh masyarakat kita. Tidak peduli budaya itu merusak ataukah tidak, namun tampaknya masyarakat kita lebih suka menghadapi budaya-budaya luar itu daripada melestarikan budaya tanah airnya sendiri. Hal ini harus bisa disikapi dengan serius karena bila kebiasaan ini terus berlangsung tanpa proses penyaringan dan pengontrolan, maka dapat dipastikan bahwa budaya Indonesia akan hilang lenyap tinggal nama. Permasalahan ini timbul bukan karena faktor luar, namun timbul dari diri pribadi masing-masing warga masyarakat yang seakan malu dan menganggap kuno budayanya sendiri.

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang melimpah. Bangsa kita merupakan bangsa yang serba multi, baik itu, multibudaya, multibahasa, maupun multiagama. Kesemuanya itu bila dikelola dengan baik dapat dijadikan sebagai potensi untuk memakmurkan rakyat dan memajukan bangsa kita.
Banyak orang Amerika, Inggris, Prancis, dan sebagainya datang berduyun-duyun ke pantai Kuta dan Sanur di Bali. Padahal di Negara mereka sendiri terdapat banyak pantai yang mungkin saja pemandangannya lebih indah. Bila kita kaji lebih dalam, ternyata yang menjadi tujuan para turis asing tersebut adalah untuk melihat kebudayaan Bali yang terkenal eksotik dan unik, yang berbeda dengan kebudayaan mereka.
Sayangnya, dalam wacana pariwisata budaya di tingkat nasional, yang seringkali dijadikan rujukan dan contoh adalah pariwisata di Bali tersebut. Seolah-olah hanya daerah Bali yang hanya bisa dimajukan pariwisata budayanya untuk menarik kunjungan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sehingga wisatawan asing lebih banyak mengenal Bali sebagai satu-satunya pulau di Indonesia. Padahal Indonesia memiliki beribu-ribu pulau dari Sabang sampai Merauke dengan kebudayaan lokalnya yang tidak kalah unik. Tidak salah memang bila kita membanggakan keberhasilan Bali sebagai daerah tujuan pariwisata dunia yang telah menghasilkan sumbangan devisa terhadap negara dalam jumlah besar. Namun bila kita hanya mengandalkan satu daerah Bali saja, maka kemajuan pariwisata Indonesia akan mengalami ketergantungan yang sangat tinggi terhadap daerah tersebut. Hal ini terbukti, ketika di Bali terjadi tragedi bom yang diledakkan oleh kaum teroris, maka penerimaan devisa negara kita di bidang pariwisata menjadi turun secara drastis.
Sebenarnya ada banyak cara untuk meningkatkan pariwisata di negeri kita. Yaitu salah satunya dengan turut mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki oleh kota-kota lain yang salah satunya adalah kota Batam. Kota Batam memiliki potensi alam dan budaya, termasuk peninggalan sejarah serta aktivitas keagamaan yang kesemuanya itu dapat dikemas menjadi sebuah wisata yang menarik dan diharapkan dapat menjadi wisata andalan.
Untuk itu, pemerintah kota Batam bermaksud untuk mengadakan pesta besar. Jutaan orang dari berbagai belahan dunia akan hadir di kota ini untuk menikmati berbagai objek wisata dan atraksi budaya yang dihelat melalui sebuah program besar, “Visit Batam 2010″. Selama ini Batam sudah menampati posisi ketiga kunjungan wisata tertinggi di Indonesia setelah Bali dan Jakarta. Dengan diadakannya program Visit Batam 2010, diharapkan dapat memberikan sumbangan besar tehadap negara sehingga dunia tidak hanya mengenal Bali sebagai satu-satunya wisata yang ada di Indonesia tetapi Batam juga memiliki kemampuan yang sama dalam mengembangkan wisatanya.
Sebenarnya banyak hal yang dapat dibanggakan atas keberhasilan Indonesia dalam bidang budaya. Salah satunya yaitu kesenian wayang yang saat ini didudukkan menjadi sebagai salah satu masterpiece dunia. Wayang Indonesia mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Tentunya penghargaan tinggi seperti itu tidak mudah diberikan pada setiap bangsa yang memiliki kekayaan budayanya, melainkan anugerah budaya tersebut berlandaskan berbagai kriteria tertentu. Selain wayang, Indonesia juga memiliki kesenian lain yaitu Gamelan. Gamelan rupanya kian mendunia. Kesenian kebanggaan bangsa yang satu ini telah menyebar di mancanegara, dipelajari, dimainkan, dipentaskan, dan dikaji lebih dalam secara ilmiah di universitas-universitas di luar negeri.
Untuk lebih memajukan budaya Indonesia, diharapkan agar pemerintah lebih mengedapankan kebijakan yang mendorong agar suatu wilayah dapat mengembangkan budaya yang ada di daerahnya masing-masing sehingga juga dapat memajukan masyarakat di daerah tersebut. Peran serta masyarakat dalam pembangunanan wadah-wadah budaya di daerah masing-masing harus diutamakan.
Bila pembangunan pariwisata budaya ini dapat segera dilakukan dengan terarah dan berkesinambungan di seluruh daerah di Indonesia, maka kelestarian budaya, inovasi dan kreativitas budaya, kerukunan antarbudaya, lapangan pekerjaan, pemasukan terhadap pendapatan daerah dan devisa negara adalah sumbangan penting yang dapat diberikan oleh bidang pariwisata budaya untuk peradaban Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

Budaya dan Visit Batam 2010

Nilai-nilai budaya Indonesia saat ini mulai terkikis oleh masuknya budaya barat. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya perlahan meninggalkan budaya tradisional dengan alasan mengikuti arus globalisasi. Akibatnya, bangsa Indonesia kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia.

Budaya memiliki banyak arti yang berkaitan dengan suatu bangsa. Budaya bisa berarti akal budi atau pikiran. Akal budi bangsa Indonesia mulai luntur seiring dengan terkikisnya nilai budaya. Sebagai contoh, Jakarta berubah menjadi kota yang tidak memiliki budaya tradisional. Warga yang tinggal di kota besar tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Budaya barat tidak cocok dengan karakter bangsa Indonesia. Budaya barat jelas berbeda dengan adat ketimuran Indonesia. Nilai budaya yang makin terkikis berdampak pada generasi muda. Sejarah berdirinya Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi cerita usang yang tidak menarik untuk dibicarakan. Untuk itu, pemerintah wajib memberikan informasi tentang budaya kepada generasi muda. Bangsa Indonesia harus memiliki jati diri dengan cara mempertahankan nilai-nilai budaya.

Dari waktu ke waktu budaya barat semakin marak dan diserap dengan mudah oleh masyarakat kita. Tidak peduli budaya itu merusak ataukah tidak, namun tampaknya masyarakat kita lebih suka menghadapi budaya-budaya luar itu daripada melestarikan budaya tanah airnya sendiri. Hal ini harus bisa disikapi dengan serius karena bila kebiasaan ini terus berlangsung tanpa proses penyaringan dan pengontrolan, maka dapat dipastikan bahwa budaya Indonesia akan hilang lenyap tinggal nama. Permasalahan ini timbul bukan karena faktor luar, namun timbul dari diri pribadi masing-masing warga masyarakat yang seakan malu dan menganggap kuno budayanya sendiri.

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang melimpah. Bangsa kita merupakan bangsa yang serba multi, baik itu, multibudaya, multibahasa, maupun multiagama. Kesemuanya itu bila dikelola dengan baik dapat dijadikan sebagai potensi untuk memakmurkan rakyat dan memajukan bangsa kita.

Banyak orang Amerika, Inggris, Prancis, dan sebagainya datang berduyun-duyun ke pantai Kuta dan Sanur di Bali. Padahal di Negara mereka sendiri terdapat banyak pantai yang mungkin saja pemandangannya lebih indah. Bila kita kaji lebih dalam, ternyata yang menjadi tujuan para turis asing tersebut adalah untuk melihat kebudayaan Bali yang terkenal eksotik dan unik, yang berbeda dengan kebudayaan mereka.

Sayangnya, dalam wacana pariwisata budaya di tingkat nasional, yang seringkali dijadikan rujukan dan contoh adalah pariwisata di Bali tersebut. Seolah-olah hanya daerah Bali yang hanya bisa dimajukan pariwisata budayanya untuk menarik kunjungan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sehingga wisatawan asing lebih banyak mengenal Bali sebagai satu-satunya pulau di Indonesia. Padahal Indonesia memiliki beribu-ribu pulau dari Sabang sampai Merauke dengan kebudayaan lokalnya yang tidak kalah unik. Tidak salah memang bila kita membanggakan keberhasilan Bali sebagai daerah tujuan pariwisata dunia yang telah menghasilkan sumbangan devisa terhadap negara dalam jumlah besar. Namun bila kita hanya mengandalkan satu daerah Bali saja, maka kemajuan pariwisata Indonesia akan mengalami ketergantungan yang sangat tinggi terhadap daerah tersebut. Hal ini terbukti, ketika di Bali terjadi tragedi bom yang diledakkan oleh kaum teroris, maka penerimaan devisa negara kita di bidang pariwisata menjadi turun secara drastis.

Sebenarnya ada banyak cara untuk meningkatkan pariwisata di negeri kita. Yaitu salah satunya dengan turut mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki oleh kota-kota lain yang salah satunya adalah kota Batam. Kota Batam memiliki potensi alam dan budaya, termasuk peninggalan sejarah serta aktivitas keagamaan yang kesemuanya itu dapat dikemas menjadi sebuah wisata yang menarik dan diharapkan dapat menjadi wisata andalan.

Untuk itu, pemerintah kota Batam bermaksud untuk mengadakan pesta besar. Jutaan orang dari berbagai belahan dunia akan hadir di kota ini untuk menikmati berbagai objek wisata dan atraksi budaya yang dihelat melalui sebuah program besar, “Visit Batam 2010″. Selama ini Batam sudah menampati posisi ketiga kunjungan wisata tertinggi di Indonesia setelah Bali dan Jakarta. Dengan diadakannya program Visit Batam 2010, diharapkan dapat memberikan sumbangan besar tehadap negara sehingga dunia tidak hanya mengenal Bali sebagai satu-satunya wisata yang ada di Indonesia tetapi Batam juga memiliki kemampuan yang sama dalam mengembangkan wisatanya.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dibanggakan atas keberhasilan Indonesia dalam bidang budaya. Salah satunya yaitu kesenian wayang yang saat ini didudukkan menjadi sebagai salah satu masterpiece dunia. Wayang Indonesia mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Tentunya penghargaan tinggi seperti itu tidak mudah diberikan pada setiap bangsa yang memiliki kekayaan budayanya, melainkan anugerah budaya tersebut berlandaskan berbagai kriteria tertentu. Selain wayang, Indonesia juga memiliki kesenian lain yaitu Gamelan. Gamelan rupanya kian mendunia. Kesenian kebanggaan bangsa yang satu ini telah menyebar di mancanegara, dipelajari, dimainkan, dipentaskan, dan dikaji lebih dalam secara ilmiah di universitas-universitas di luar negeri.

Untuk lebih memajukan budaya Indonesia, diharapkan agar pemerintah lebih mengedapankan kebijakan yang mendorong agar suatu wilayah dapat mengembangkan budaya yang ada di daerahnya masing-masing sehingga juga dapat memajukan masyarakat di daerah tersebut. Peran serta masyarakat dalam pembangunanan wadah-wadah budaya di daerah masing-masing harus diutamakan.

Bila pembangunan pariwisata budaya ini dapat segera dilakukan dengan terarah dan berkesinambungan di seluruh daerah di Indonesia, maka kelestarian budaya, inovasi dan kreativitas budaya, kerukunan antarbudaya, lapangan pekerjaan, pemasukan terhadap pendapatan daerah dan devisa negara adalah sumbangan penting yang dapat diberikan oleh bidang pariwisata budaya untuk peradaban Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

(sumber : dari berbagai sumber)